Profil Puskesmas Cantigi


PROFIL KESEHATAN

 

KECAMATAN CANTIGI

TAHUN 2024

 

 

 

 

 

 

 

PEMERTINTAH KABUPATEN INDRAMAYU

DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS CANTIGI

Jl. Raya Cantigi Kulon Kec. Cantigi Kab. Indramayu 45251




KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT dengan tersusunnya buku profil Puskesmas Cantigi ini, profil Puskesmas Cantigi tahun 2024 ini merupakan kelanjutan dari profil puskesmas cantigi tahun – tahun sebelumnya.

Dewasa ini, Sistem Informasi Kesehatan mulai mengalami perkembangan yang pesat sehingga dapat berperan dalam menunjang kesehatan, sejalan dengan hal tersebut kebutuhan akan data/ informasi yang lengkap dan akurat semakin diperlukan perannya dalam perencanaan evaluasi program-program kesehatan sebagai upaya untuk mensukseskan pembangunan nasional khususnya di bidang kesehatan.

Penyusun buku profil Kesehatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan gambaran/ informasi hasil yang telah dicapai dalam pembangunan di bidang kesehatan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Selanjutnya profil Puskesmas Cantigi ini digunakan sebagai monitoring dan evaluasi dari program-program serta sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan kegiatan ditahun yang akan datang.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan buku profil Kesehatan Kecamatan Cantigi Tahun 2024 ini masih terdapat kekurangan, untuk itu kami selalu mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan buku ini. Semoga Buku Profil Puskesmas Cantigi tahun 2024 ini dapat memberikan manfaatkan kepada semua pihak yang membutuhkan.

Akhir kata ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan buku ini.

 

 

Cantigi,      Januari 2024

 

 

Tim Penyusun Profil Kesehatan

Kecamatan Cantigi Tahun 2024

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ……................................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................................

DAFTAR TABEL ...........................................................................................

i

ii

v

 

BAB I

 

 

 

 

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang ......................................................................

1.2    Tujuan ...................................................................................

1.3    Sistematika Penulisan ……………………………….……........

 

1

2

3

BAB II

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS CANTIGI

2.1    Geografis, Topgrafi dan Iklim.................................................

2.2    Data Sumber Daya ................................................................

2.3    Pemerintahan ........................................................................

2.4    Jumlah Penduduk ..................................................................

2.5    Komposisi Penduduk ……………………………………………

 

4

4

4

5

6

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

3.1  Angka Kematian .....................................................................

3.1.1    Angka Kematian Bayi (AKB) …………………………..

3.1.2    Angka Kematian Balita ………………………………...

3.1.3    Angka Kematian Ibu (AKI) ………...…………………..

3.2   Angka Kesakitan ...................................................................

3.2.1    Prevalensi Tuberkulosis ……………………………….

3.2.2    Persentase Balita dengan Pneumonia ditangani …...

3.2.3    Persentase HIV /AIDS ditangani …………………….

3.2.4    Kasus Diare …………………………………………….

3.2.5    Prevalensi Kusta ………………………………………

3.2.6 Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)………………………………………………..

3.2.7 Demam Berdarah Dengue (DBD) …………………….

3.2.8    Malaria ………………………………………………...

3.2.9    Filariasis ……………………………………………….

3.2.10  Cakupan Desa/Kelurahan terkena KLB

            ditangani < 24 jam ....................................................

 

8

8

9

9

10

10

11

11

12

12

 

12

13

13

15

 

14

3BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

4.1   Cakupan Kunjungan K1 dan K4 ............................................

4.1.1    Cakupan Kunjungan K1 dan K4……………..………..

4.1.2    Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan ……………………………………………..

4.1.3    Cakupan Pelayanan Nifas dan Cakupan Pemberian

            Vitamin A pada Ibu Nifas …………………………........

4.1.4    Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil …………………………………………………………..

4.1.5    Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe ……………………………………………………………

4.1.6    Cakupan Komplikasi Kebidanan dan Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang ditangani ………………………….................................................

4.1.7    Persentase KB Baru dan KB Aktif…………………….

4.1.8    Persentase Berat Bayi Lahir Rendah ………………..

4.1.9    Cakupan Kunjungan Neonatus ……………………….

4.1.10  Persentase Bayi yang Mendapat ASI Ekslusif ………

4.1.11  Cakupan Desa/Kelurahan “Universal Child Imunization”……………............................................

4.1.12  Persentase Cakupan  Imunisasi Bayi ………………..

4.1.13  Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak

             Balita ……………………………………………………

4.1.14  Persentase Balita Ditimbang ………………………….

4.1.15  Cakupan Kasus Balita Gizi Buruk yangMendapatkan Perawatan………………………………………………

4.1.16  Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD Setingkat ………………………………………………

4.1.17  Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia (60 Tahun+) …………………………………………………………..

4.2   Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan .............................

4.2.1    Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan …………………………………………………………..

4.2.2    Cakupan Kunjungan Rawat Jalan dan Kunjungan

Gangguan Jiwa ………………………………………..

4.3   Perilaku Hidup Masyarakat ...................................................

4.3.1    Rumah Tangga ber-PHBS …………………………….

4.4  Keadaan Lingkungan ...........................................................

4.4.1    Persentase Rumah Sehat …………………………….

4.4.2    Penduduk yang Memiliki Akses Air Minum

Berkualitas (Layak) …………………………………...

4.4.3    Persentase Penyelenggara Air Minum Memenuhi syarat Kesehatan ………………………………………………..

4.4.4    Persentase penduduk yang memiliki akses sanitasi

 yang layak …………………………………………...

4.4.5     Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)…

4.4.6     Persentase Tempat-tempat Umum (TTU) dan           Tempat  Pengelola Makanan (TPM) Sehat …………

 

15

16

 

16

 

16

 

17

 

17

 

 

17

17

17

18

18

 

18

   18

 

18

18

 

19

 

19

 

19

20

 

20

20

 

21

 

21

 

21

 

22

 

22

 

23

 

23

 

 

BAB V

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

5.1   Sarana Kesehatan  ………………………………………........

5.1.1   Puskesmas ………………………………………………

5.1.2   Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan ……………

5.1.3   Posyandu ……………………………………………….

5.1.4 Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) …………………………………………………..

5.1.5   Desa Siaga ……………………………………………....

5.2   Tenaga Kesehatan ……………………………………………...

5.3    Pembiayaan …………………………………………………….

 

24

24

25

25

25

25

26

26

27

BAB VI

KESIMPULAN

6.1    Situasi Derajat Kesehatan ………………………………………..

6.2    Situasi Upaya Kesehatan ………………………………………...

6.3    Situasi Sumberdaya Kesehatan ……………………………….….

 

 

 

28

28

28

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

 

Tabel 2.1

 

Tabel 2.2

 

Tabel 5.2

Distribusi Penduduk Wilayah Keraja Puskesmas Cantigi ……………………………………………………………………….

Distribusi Penduduk Kelompok Rentan Wilayah Kerja

Puskesmas Cantigi ………………...........................................

Sumber Daya Manusia Kesehatan Puskesmas Cantigi ..............................................................................................

 

5

 

7

 

27

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1      Latar Belakang

Undang-undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan    untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap oraang agar       terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi - tingginya, sebagai           investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis, sedangkan kesehatan adala keadaan baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pembangunan nasional, karena kesehatan sangat terkait dengan konotasi   dipengaruhi dan dapat juga mempengaruhi aspek demografi/kependudukan, keadaan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat termasuk tingkat pendidikan    serta kaedaan dan      perkembangan lingkungan fisik maupun biologik.Salah satu kebutuhan dalam pelaksanaan pembangunan dan usaha mencapai tujuan      pembangunan kesehatan perlu dimantapkan dan dikembangkan. Hal ini akan mendukung pelaksanaan manajemen kesehatan dan  pembangunan upaya-upaya kesehatan demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Salah satu bentuk pengembangan sistem informasi di bidang kesehatan adalah menampilakan hasil pembangunan dibidang kesehatan, yang diwujudkan dalam penyajian data keberhasilan     pencapaian program-program kesehatan yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Indramayu, yaitu dalam bentuk buku   “Profil Kesehatan Puskesmas Cantigi Tahun 2024”.

Profil kesehatan Puskesmas Cantigi adalah gambaran situasi kesehatan di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi. Yang memuat berbagai data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama 1 (satu) tahun. Data dan informasi yang termuat antara lai data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian    program-program kesehatan, masalah kesehatan dan lain sebagainya. Profil kesehatan ini disajikan secara sederhana dan informatif dengan harapan bisa    dimanfaatkan oleh masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi khususnya dan semua masyarakat pada umumnya.

Selain untuk menyajikan informasi kesehatan , profil bisa dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan/kemajuan pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama tahun 2023 dibandingkan dengan target yang sudah ditetapkan, untuk memberikan gambaran tentang        pembangunan kesehatan, program kebijakan yang dilaksanakan di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi sebagai bahan              pertimbangan dalam menyusun kegiatan, program dan kebijakan dibidang kesehatan sekaligus bisa dipakai sebagai bahan evaluasi dalam upaya“ mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan”.

 

1.2      Tujuan

1.  Tujuan Umum

Tujuan disusunnya profil kesehatan di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi tahun 2024 adalah tersedianya data/informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan dalam rangka        menignkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasil guna dan berdaya sebagai upaya mewujudkan masyarakat Cantigi yang sehat, mandiri dan berkeadilan.

2.  Tujuan Khusus

a.  Menyediakan data/informasi umum lingkungan wilayah kerja Puskesmas Cantigi.

b.  Menyediakan data/informasi status kesehatan masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi.

c.   Menyediakan data/informasi tentang upaya kesehatan dan        kebijakan di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi.

d.  Menyediakan data/informasi untuk bahan penyusunan perencanaan kegiatan/program kesehatan di Wilayah kerja     Puskesmas Cantigi.

e.  Tersedianya alat untuk pemantauan dan evaluasi tahunan program kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.3      Sistematika Penulisan

BAB I              Pendahuluan

                        Menyajikan tentang tujuan penyusunan profil kesehatan

BAB II             Gambaran umum di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi

Menyajikan gambaran umum yang meliputi keadaan  geografi,   demografi, keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi

            BAB III            Situasi Derajat Kesehatan

Berisi uraian tentang indikator keberhasilan penyelenggara          pelayanan kesehatan tahun 2023 yang mencakup tentang angka kematian, kesakitan dan angka status gizi

            BAB IV           Situasi Upaya Kesehatan

Memberikan gambaran dan upaya pelayanan kesehatan dasar,   pelayanan kesehatan rujukan, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat dan pelayanan kefarmasian.

            BAB V            Situasi Sumber Daya Kesehatan

Menguraikan tentang keadaan sarana  kesehatan,   tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan informasi kesehatan.

            BAB IV           Kesimpulan

Memuat hal – hal yang perlu disimak dan di telaah lebih lanjut, berkaitan dengan kebersihan-kebersihan dan hal-hal yang masih kurang dalam rangka perbaikan     penyelenggaraan pembangunan kesehatan di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi kedepan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

GAMBARAN UMUM

PUSKESMAS CANTIGI

 

2.1      Geografis, Topografi dan Iklim

Puskesmas Cantigi berada di desa Cantigi Kulon Kecamatan Cantigi       Kabupaten Indramayu dan terletak di jalur pantai utara. Secara umum wilayah   kerja Puskesmas Cantigi dapat di jangkau oleh alat transportasi darat dengan kendaraan roda dua dan roda empat atau alat transportasi lainnya. Penduduk Kecamatan Cantigi mayoritas mempunyai mata pencaharian bertani, nelayan dan buruh.

Berdasarkan kondisi topografinya wilayah Puskesmas Cantigi merupakan daerah dataran rendah dengan topograf yang landai. Keadaan topograf  tersebut berpengaruh terhadap drainase, bila terjadi curah hujan tinggi maka daerah        tertentu akan terjadi genangan air/banjir, dan bila terjadi musim kemarau akan menyebabkan kekeringan. Kondisi tersebut menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cantigi, terutama timbulnya penyakit yang dapat menular melalui perantara air. Desa yang rawan kejadian banjir adalah desa Cangkring dan Cemara.

2.2      Iklim

            Letak Puskesmas Cantigi disebelah utara yang membentang sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa membuat suhu udara cukup tinggi yang berkisar antara 22,9o – 30oC.

Karakteristik iklim di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi antara lain :

-       Kelembaban udara berkisar antara 70 -80 %

-       Suhu udara harian berkisar antara 22,9o – 30oC.

-       Curah hujan rata – rata tahunan adalah 1.501 mm per tahun

-       Curah hujan terendah kurang lebih sebesar 888 mm

Rata –rata hujan sepanjang tahun ini sebesar 2.104 mm dengan jumlah hari hujan 103 hari.

2.3      Pemerintahan

Dengan luas wilayah 10,362.50 Hektar, Wilayah kerja Puskesmas Cantigi merupaka sebuah wilayah administratif yang luas. Saat ini memiliki desa sebanyak 7 desa. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Cantigi adalah sebagai berikut :

-          Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa

-          Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Arahan

-          Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sindang

-       Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Losarang

Agar pembangunan kesehatan dapat dirasakan secara  merata maka      diperlukan petugas kesehatan untuk perencanaan dan pelaksanaan                pembangunan kesehatan. Selain petugas kesehatan, peran aktif masyarakat    adalah roda penggerak pembangunan kesehatan. Dengan kinerja petugas kesehatan yang baik diharapkan pembangunan kesehatan dapat dinikemati oleh seluruh masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi.

2.4      Jumlah Penduduk

Pada akhir tahun 2023 jumlah penduduk wilayah kerja   Puskesmas Cantigi tercatat sebanyak 32.899  jiwa. Untuk lebih jelas mengenai jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Table 2.1

Distribusi Penduduk

Wilayah Kerja puskesmas Cantigi Tahun 2023

NO

DESA

L

P

JUMLAH

1

Cangkring

1.652

1.599

3.251

2

Cantigi Kulon

2.242

2.249

4.491

3

Cantigi Wetan

2.021

2.037

4.058

4

Panyingkiran Kidul

2.076

1.983

4.059

5

Panyingkiran Lor

2.308

2.222

4.530

6

Lamaran Tarung

3.797

3.655

7.452

7

Cemara

2.596

2.462

5.058

JUMLAH

16.692

16.207

32.899

 

Dari table di atas dapat kita lihat bahwa penduduk di wilayah   kerja Puskesmas Cantigi sebanyak 32.899 jiwa, terdiri dari 16.692 jiwa penduduk laki-laki atau 47% dan 16.207 jiwa penduduk perempuan atau 49%. Dengan demikian secara umum jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. Dari jumlah penduduk 32.899    jiwa, desa Lamaran Tarung adalah desa dengan jumlah penduduk terbanyak, dan desa Cangkring adalah desa dengan jumlah penduduk paling sedikit.

2.5      Komposisi Penduduk

Adapun jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 sebanyak 32.899 jiwa.  komposisi penduduk merupakan sebuah mata   statistik dari statistik kependudukan yang membagi dan membahas masalah kesehatan kependudukan dari segi umur dan jenis kelamin.

Komposisi menurut umur ini sangat penting bagi pemerintahsebuah negara untuk menentukan kebijakan kependudukan untuk beberapa tahun kedepan. Komposisi menurut umur biasanya  dijabarkan dalam kelompok – kelompok  umur 5 tahunan, adapun   komposisinya adalah  sebagai berikut :

a.      0 – 4  tahun       : 2.897

b.      5 – 9 tahun         : 2.621

c.      10 – 14 tahun    : 2.578

d.      15 – 19 tahun    : 2.574

e.      20 – 24 tahun    : 2.602

f.       25 – 29 tahun    : 2.566

g.      30 – 34 tahun    : 2.730

h.      35 – 39 tahun    : 2.611

i.       40 – 44 tahun    : 2.523

j.       45 – 49 tahun    : 2.625

k.      50 – 54 tahun    : 2.692

l.       55 – 59 tahun    : 2.693

m.    60 – 64 tahun    : 2.497

n.      > 65 tahun          : 1.013

Pada tahun 2023 jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Cantigi terbesar pada kelompok usia umur 0 – 4 tahun sebanyak 2.897 jiwa atau 8% yang merupakan usia tumbuh kembang anak. Sedangkan terendah pada kelompok usia >65 tahun sebanyak 2013 jiwa atau 6%.

Dalam upaya peningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat, sasaran program pembangunan kesehatan di prioritaskan pada kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan. Adapun jumlah sasaran kelompok rentan berdasarkan hasil pendataan KIA Puskesmas Cantigi pada akhir Desember 2023 adalah tersebar  sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Table 2.2

Distribusi Penduduk Kelompok Rentan

Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi

Tahun 2023

 

NO

DESA

NEONATAUS

BAYI

BALITA

BUMIL

BUFAS

1

Cangkring

37

41

161

40

38

2

Cantigi Kulon

55

61

239

59

58

3

Cantigi Wetan

57

64

252

64

60

4

Panyingkiran Kidul

49

55

216

53

52

5

Panyingkiran Lor

50

56

221

56

53

6

Lamaran Tarung

96

107

417

105

100

7

Cemara

66

75

291

74

70

JUMLAH

410

459

1797

451

431

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                              BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

 

            Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari      kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu kejadian     kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pengembangan kesehatan lainnya.

            Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta      unsur-unsur moralitas dan yang mempengaruhinya seperti morbiditas dan status gizi. Kualitas hidup yang digunakan sebagai indikator adalah   angka kelahairan hidup,      sedangkan untuk mortalitas adalah angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian balita per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu per 100.000 kelahiran.

            Angka kematian ibu dan bayi juga merupakan indikator dari tujuan 4 dan       Milenium Development Goals (MDGs).

3.1    Angka Kematian

Angka kematian adalah bilangan yang menunjukan jumlah     kematian dari tiap seribu penduduk dalam waktu satu tahun. Kriteria angka kematian termasuk tinggi apabila diatas 19, angka kematian   tergolong sedang apabila antara 14 – 18, dan angka kematian tergolong rendah apabila di bawah 13.

Angka Kematian (Mortalitas) merupakan salah satu ukuran untuk melihat Grafikan perkembangan derajat kesehatan masyarakat dan    dijadikan acuan untuk menilai keberhasilan perkembangan kesehatan. Angka kematian dapat dilihat dari kejadian  kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dan pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan survey dan penelitian. Angka Kematian Bayi (AKB),        kematian ibu saat melahirkan (AKI) dan kematian balita (AKABA) merupakan indikator utama dalam menilai pencapaian derajat kesehatan masyarakat.

3.1.1    Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka yang menunjukan banyaknya kematian bayi usia 0 tahun dari setiap 1.000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal     sebelum mencapai usia satu tahun (dinyatakan dengan per   seribu kelahiran bayi).

Angka kematian bayi merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan keadaan derajat kesehatan disuatu masyarakat. Karena bayi yang baru lahir sangat sensitive terhadap keadaan lingkungan tempat orang tua si bayi. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pencegahan dan        pemberantasan berbagai penyakit penyebab kematian akan tercermin secara jelas dengan menurunnya tingkat AKB. Dengan demikian angka kematian bayi merupakan tolak ukur yang     sensitive dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya dibidang kesehatan.

Kematian bayi ini dapat dikelompokkan menjadi bayi lahir mati,     kamatian 0 – 7 hari (Perinatal), kematian 8 – 28 hari    (Noenatal) dan     kematian 1-12 bulan. Terdapat 6 kasus angka kematian bayi (AKB) di wilayah kerja puskesmas cantigi pada   tahun 2023.

3.1.2    Angka Kematian Balita

Konsep definisi angka kematian balita adalah jumlah   kematian anak berusia 0 - 4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun ini (termasuk kematian bayi).

Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan    lingkungan anak – anak bertempat tinggal termasuk  pemeliharaan kesehatannya. Angka  kematian balita kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.

Angka kematian balita di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 tidak ada di wilayah cantigi.

3.1.3    Angka Kematian Ibu (AKI)

Banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang  lama dan tempat       persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolanya, dan bukan karena            sebab – sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup. Yang dimaksud dengan kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni      kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena  sebab – sebab lain seperti kecelakaan , terjatuh dan lain – lain.

 Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama      pelayanan kehamilan dan membuat         kehamilan yang aman bebas   resiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah         kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan system rujukan dalam               penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran , yang semuanya bertujuan    untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.

Angka kematian ibu di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi pada tahun 2023 terdapat 1 kasus.

 

3.2      Angka Kesakitan

Angka Kesakitan atau morbiditas yaitu suatu angka yang   menunjukan kejadian penyakit tertentu pada suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Penyakit yang sering diselidiki mobiditasnya ialah penyakit menular, yang biasanya merupakan penyakit infeksi. Angka ini merupakan salah satu indikator dalam menilai tingkat kesehatan masyarakat dan kecenderungannya  dapat digunakan untuk menilai keberhasilan.

Angka kesakitan merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui kasus penyakit atau gangguan kesehatan pada    masyarakat. indikator ini dapat dimanfaatkan untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat secara umum yang dilihat dari adanya keluhan yang mengindikasikan terkena suatu penyakit tertentu. Pengetahuan mengenai derajat kesehatan suatu masyarakat dapat menjadi           pertimbangan dalam pembangunan bidang kesehatan, yang bertujuan agar semua lapisan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. melalui upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. Semakin banyak penduduk yang mengalami keluhan kesehatan berarti semakin rendah derajat kesehatan dari masyarakat yang bersangkutan.

   Pravelen dan insiden penyakit merupakan dua jenis indikator yang menunjukan angka kesakitan . angka pravelen mengacu pada saat ini jumlah orang yang menderita penyakit tahun tertentu, angka prevalen penyakit sangat berguna untuk merencanakan volume kegiatan / program penanggulangan penyakit, sedangkan insiden mengacu pada frekuensi perkembangan penyakit yang baru dalam periode waktu tertentu, angka insiden penyakit berguna dalam evaluasi efektifitas program yang dilaksanakan untuk menanggulangi satu     penyakit. Untuk memperoleh angka prevalen dan insiden yang tepat, maka perlu dilakukan survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT).

3.2.1    Prevalensi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan  bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. bersama dengan Malaria dan HIV / AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.

Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate(CDR), yaitu proporsijumlah pasien baru BTA Positif yang ditemukan dan biobati terhadap jumlah pasien baru BTA Positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.

Untuk mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan ( SR = SUCCES RATE )yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA Positif yang menyelesaikan           pengobatan , baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB   paru BTA Positif yang tercatat. Succes Rate  dapat membantu dalam mengetahuikecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.

Penemuan kasus TB Paru dilakukan melalui penjaringan penderita yang dicurigai / suspek TB Paru yang berobat ke Puskesmas Cantigi. Jumlah kasus baru TB dewasa pada tahun 2023 adalah 47 kasus,           sedangkan TB anak 0 – 14 tahun adalah sebanyak 30 kasus. Untuk suspek TB Paru tahun 2022    berjumlah 300 (70%).

Pada tahun 2023 BTA (+) diobati sebanyak 35 pasien (48%), pasien sembuh 17 Orang (22,6%) dan pasien yang melakukan pengobatan lengkap sebanyak 19 orang (23%).   Angka keberhasilan pengobatan     adalah 100%, sementara jumlah kematian selama pengobatan yaitu 2 orang.

Keberhasilan upaya penanggulangan TB diukur dengan          kesembuhan penderita. Kesembuhan iniselain dapat mengurangi jumlah penderita, juga mencegah terjadinyapenularan. Oleh    karena itu, untuk menjamuin kesembuhan , obat harus diminum dan penderita harus diawasi secara ketat oleh keluarga maupun teman sekelilingnya dan jika      memungkinkan dipantau oleh    petugas kesehatan agar terjamin      kepatuhan penderita minum obat

3.2.2 Persentase Balita dengan Pneumonia ditangani

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai    jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur.   Pneumoni juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak – anak usia      kurang 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun,atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).

3.2.3    Persentase HIV / AIDS ditangani

HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human I munodeficiency Virus yang menyerang ssistem kekebalan tubuh yang menyebabkan      penderita mengalami penurunan kekebalan tubuh sehingga sangat mudan    untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh      penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual, tranfuse darah, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara     bergantian dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui. Tahun 2023 ditemukan kasus HIV sebanyak 3    kasus.

 

3.2.4    Kasus Diare

Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat   perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih    berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.

Penyakit diare sampai saat ini masih termasuk dalam    urutan 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Cantigi. Penyakit   diare yang banyak ditemukan adalah gastroenteritis yang disebabkan oleh kuman. Penderita yang berobat ke Puskesmas diobati sesuai dengan prosedur tetap          penatalaksanaan kasus   diare dengan pengobatan yang rasional.

Target temuan kasus diare pada tahun 2023 adalah 744 kasus. Dari 32.899 penduduk Wilayah kerja Puskesmas Cantigi. sementara jumlah    kasus diare pada tahun 2023 yaitu sebanyak 744 kasus dan semuanya     ditangani.

3.2.5    Prevalensi Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi Progresif, kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan  mata. Pada tahun 2023 jumlah penderita kusta sebanyak 13 kasus pausi basiler (kusta kering) dan terdapat 3 penderita kusta yang dinyatakan Release From Treatment (RFT).

3.2.6    Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)    adalah penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus non neonatorum, Tetanus              neonatorum, Campak, Polio dan Hepatitis B.

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang sistem      pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam ringan, sakit tekak. Dipteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membaran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.

Pertusis atau batuk rejan adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang sangat menular dan menyebabkan    batuk yang biasanya diakhiri dengan suara pernafasan dalam bernada tinggi (melengking).     Pertusis bisa terjadi pada siapapun tapi 50% ditemukan pada anak berusia kurang dari 4 tahun.  Pada tahun 2023 di wilayah kerja puskesmas cantigi tidak ditemukan kasus difteri.

Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak. Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak.    Penularan dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Pada tahun 2023 di wilayah kerja Puskesmas Cantigi ditemukan 4 kasus campak.

   Polio adalah penyakit peralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan polio virus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran    darah dan mengalir ke sistem saraf pusat         menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan. Tahun 2023 di     wilayah kerja puskesmas cantigi tidak ditemukan kasus polio.

   Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang menginfeksi hati heminoidae, termasuk manusia dan            menyebabkan peradangan yang disebut hepatitis. Kasus hepatitis juga tidak ditemukan di wilayah kerja puskesmas cantigi pada tahun 2023.

3.2.7    Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam bedarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk      Aedes Aegyphty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun, namun dapat juga menyerang oraang     dewasa. Pada tahun 2023 tidak ditemukan kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Cantigi.

Untuk mencegah terjadinya kasus, disarankan pada masyarakat   untuk tetap melakukan pemberantasan sarang   nyamuk (PSN),      Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) dan abatesasi di rumah maupun           kelurahan/desa    masing-masing.

3.2.8    Malaria

Yang dimaksud dengan pasien malaria adalah pasien dengan pemeriksaan sediaan darah atau positif dengan pemeriksaan laboratorium. Pada tahun 2023 tidak ditemukan   kasus malaria di wilayah kerja        Puskesmas Cantigi.

3.2.9    Filariasis

Filariasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria, penyakit ini dapat menyerang hewan maupun manusia. Parasit filari masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi. Parasit tersebut akan tumbuh dewasa berbentuk cacing, bertahan hidup selama 6 hingga 8 tahun, dan terus berkembang biak dalam jaringan limfa manusia.          Puskesmas Cantigi bukan termasuk daerah endemis filariasis, sehingga pada tahun 2023 tidak ditemukan kasus filariasis.

 

3.2.10 Cakupan Desa/Kelurahan terkena KLB ditangani < 24 jam

Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit endemis adalah suatu peningkatan jumlah kasus yang melebihi keadaan biasa, pada waktu dan daerah tertentu. Sementara untuk penyakit non endemis pengertiannya adalah suatu episode penyakit yang   timbulnya penyakit pada dua atau lebih penderita yang     berhubungan satu sama lain. Hubungan ini mungkin pada faktor saat timbulnya gejala (onset of illnes), faktor tempat (tempat tinggal, tempat makan bersama, sumber makanan), faktor orang (umur,jenis kelamin, pekerjaan dan lainnya). Pada tahun 2023 wilayah kerja puskesmas Cantigi tidak ada KLB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

   Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam berbentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Sesuai dengan Permenkes No 75 Tahun 2014       tentang puskesmas bahwa, upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu yang mencakup upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan per orangan.    Diselenggarakan sesuai kebutuhan masyarakat (client oriented) dan dilaksanakan dengan cara menyeluruh, terpadu, berkelanjutan, merata, terjangkau, berjenjang, profesional dan bermutu.

   Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan  Perorangan (UKP). Upaya Kesehatan Masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk   memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan   menanggulangi timbulnya masalah kesehatan masyarakat.

   Upaya Kesehatan Masyarakat meliputi upaya –upaya promosi kesehatan, pemeliharaaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan zat adiktif dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan                kemanusiaan.

   Upaya Kesehatan Perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan meliputi upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecatatan yang ditunjukan pada perorangan.

   Upaya Kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan, antara lain : ibu, bayi, anak, usia lanjut dan keluarga miskin.

            Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. Situasi upaya kesehatan masyarakat di Kabupaten Indramayu pada tahun 2023 dapat diuraikan sebagai berikut:

 

 

 

 

4.1.  Pelayanan Kesehatan

4.1.1   Cakupan kunjungan K1 dan K4

Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dipantau melalui     pelayanan K1 dan K4. K1 merupaka kontak/kunjungan pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal,         indikator ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal dan kemampuan program dalam menggerakan masyarakat. Sedangkan K4 yaitu kontak/kunjungan ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, yang terdiri dari minimal satu kali      kontak pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga. Indikator ini berfungsi untuk menggambarkan tingkat perlindungan dan kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.

Target pencapaian program untuk K1 98.84 % dan K6 100.43 %. Tahun 2023 ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cantigi sebanyak 516 Orang dengan cakupan K1 sebanyak 510 dan K4 sebanyak 472. Semakin baiknya cakupan K1 dan K4 menggambarkan adanya jalinan kerjasama yang baik dalam melaksanakan pemantauan wilayah setempat antara puskesmas dengan BPM (Bidan Praktek Mandiri) yang berpraktik di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi, sehingga Kunjungan K4 terpantau dan terlaporkan dengan lebih baik.

4.1.2   Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Cakupan pertolongan persalinan adalah cakupan pertolongan       persalinan oleh tenanga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan (linakes). Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, alat dan obat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu secara aman, bermutu dan terjangkau.

Jumlah ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 adalah 466 orang, yang melakukan persalinan dengan tenaga kesehatan sejumlah.

4.1.3  Cakupan Pelayanan Nifas dan Cakupan Pemberian Vitamin A  

             pada Ibu Nifas

Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan. Ibu yang mendapat pelayanan kesehatan nifas sebanyak 465 Orang. Untuk capaian pemberian Vitamin A pada ibu nifas tahun 2023 sebanyak 465 Orang.

 

 

 

 

4.1.4  Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil

Untuk pencegahan terjadinya Tetanus Toxoid pada ibu hamil dilakukan imunisasi TT. Cakupan imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil tahun 2023 adalah TT-1 = 497 Orang (96,32%), TT-2 = 479 orang (92,83%) dan TT2+ = 36 orang (6,98%).

4.1.5 Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet FE

Tablet Fe berguna untuk mencegah terjadinya Anemia pada ibu hamil, pendistribusian tablet Fe pada ibu hamil selama 3 bulan. Pada tahun 2023, dari 451 Ibu hamil, yang mendapat tablet Fe 1 sebanyak 510 orang atau 98,83 % dan Fe 3 sebanyak 510 atau 100%.

4.1.6  Cakupan Komplikasi Kebidanan dan Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani

Komplikasi yang dimaksud adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang mengancam jiwa ibu dan atau bayi. Ibu hamil, ibu bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan.

Pada tahun 2023, penanganan komplikasi kebidanan sebanyak 103 orang dari 90 Perkiraan ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani atau sebesar 99,81%. Untuk neonatal dengan jumlah lahir hidup sejumlah 465 yang mendapatkan penanganan komplikasi neonatal sebanyak 79 (112,78%) dari perkiraan neonatal komplikasi sebanyak 62 orang.

4.1.7 persentase KB Baru dan KB Aktif

Pasangan Usia Subur adalah pasangan suami istri yang istrinya berumur 15 – 49 tahun. Pada tahun 2023, pasangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi berjumlah 5.706. Peserta KB Baru adalah PUS yang baru pertama kali menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, sementara KB Aktif adalah akseptor yang sedang memakai kontrasepsi. Pada tahun 2023 jumlah peserta KB baru 2418 orang dan peserta KB Aktif sebanyak 3271 orang. Jenis kontrasepsi ini bisa dikatagorikan atas 2, yaitu metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) terdiri dari IUD,MOP/MOW, Implan dan Non MKJP terdiri dari suntik, pil, kondom dan obat vagina. Peserta KB yang menggunakan MKJP sebanyak 532 orang dan Non MKJP sebanyak 6066 orang.

4.1.8 Presentase Berat Badan Bayi Lahir Rendah

Berat bayi lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Tahun 2023 bayi lahir hidup sebanyak 459 orang, terdiri dari laki-laki 249 orang dan perempuan 210 orang. jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 4 orang, terjadi pada laki-laki 3 orang dan perempuan sebanyak 2 orang.

4.1.9 Cakupan Kunjungan Neonatus

jumlah bayi lahir hidup tahun 2023 adalah sebanyak 465 orang. untuk kunjungan neonatus 1 kali (KN1) adalah kunjungan neonatal pertama pada 6 - 48 jam setelah lahir sesuai dengan standar. Jumlah KN1 tahun 2023 dengan pencapaian melebihi target sebanyak 464 (99,36%). Kunjungan neonatal 3 (KN3) adalah pelayanan kunjungan neonatal lengkap, minimal 1 x usia 6-48 jam, 1 x pada 3-7 hari dan 1 x pada 8-28 hari sesuai standar. Jumlah kunjungan 3 (KN3) juga melebihi target dengan pencapaian yaitu sebanyak 463 (99,14%).

4.1.10 Persentase Bayi yang Mendapat ASI Ekslusif

Bayi yang mendapat ASI Ekslusif adalah bayi yang mendapat ASI saja sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan mineral. Jumlah bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi pada tahun 2023 adalah sebanyak 463 bayi dan yang mendapat ASI Ekslusif sejumlah 340 (73,43%).

4.1.11 Cakupan Desa/Kelurahan "Universal Child Immunization"

             (UCI)

Desa/kelurahan UCI  (Universal Child Immunization) adalah desa atau kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap pada kurun waktu tertentu. Tahun 2023 ada 5 desa UCI (Universal Child Immunization).

4.1.12 Persentase Cakupan Imunisasi Bayi

Imunisasi rutin yang diberikan pada bayi adalah Hb < 7 hari, BCG, DPT-HB3/DPT-HH-HIB3, polio 4, campak dan imunisasi lengkap. Cakupan Imunisasi tahun 2022 ; Hb < 7 hari= 422 orang (92%), BCG = 455 orang (99,7%),DPT-HB3/DPT-HH-HIB3 = 458 orang (100%) polio 4a = 458 orang (100%), Campak = 405 orang (88.8 %). sementara itu untuk cakupan imunisasi dasar lengkap = 2.198 orang (439%).

4.1.13 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita

Pendistribusian Vitamin A dilakukan pada bulan Pebruari dan Agustus. Vitamin A diberikan pada bayi usia 6-11 bulan anak balita 12 - 59 bulan. Cakupan pemberian Vitamin A tahun 2023 pada bayi 6 - 11 bulan yaitu 476 atau 100% dan pada anak balita 1720 atau 100%. Total seluruh balita yang mendapat Vitamin A adalah 2196 orang (100%).

4.1.14 Persentase Balita di Timbang

Salah satu cara pemantauan status gizi balita dan tingkat partisipasi masyarakat terhadap posyandu adalah dengan menggunakan indikator SKDN. SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita. SKDN singkatan dari S = jumlah balita yang ada di posyandu, K = jumlah balita yang terdaftar dan mempunyai KMS, D = jumlah balita yang datang dan ditimbang bulan ini dan N = jumlah balita yang naik berat badannya.

Data tahun 2023 dari jumlah balita yang dilaporkan (S) sejumlah 1.973 , yang dilakukan penimbangan (D) sejumlah 1.901 atau tingkat partisipasi masyarakat membawa balitanya ke posyandu (D/S) sebanyak 96%. Dari penimbangan tersebut Balita yang BGM ( Bawah Garis Merah) ditemukan sebanyak 17 orang (141%).

4.1.15 Cakupan Kasus Balita Gizi Buruk yang Mendapatkan

Perawatan

Balita gizi buruk adalah kekurangan energi dan protein tingkat berat akibat kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi dan menderita sakit yang begitu lama. Keadaan ini dengan status gizi sangat kurus (BB/TB) dan atau pemeriksaan klinis menunjukan gejala marasmus, kwasiorkor atau marasmus kwasiorkor.

Kasus balita gizi buruk di wilayah Kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 ditemukan sejumlah 2 anak. Semua kasus yang ditemukan di Wilayah kerja Puskesmas mendapat perawatan.

4.1.16 Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

   Pelayanan kesehatan (penjaringan) siswa SD dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan Madrasah Ibtidaiya yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terlatih ( guru dan dokter kecil) di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi pada kurun waku tertentu.

Jumlah Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi Tahun 2023 sebanyak 19 sekolah dan semuanya melaksanakan penjaringan kesehatan.

4.1.17 Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia (60 Tahun+)

Pada hakikatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh seseorang. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran baik dari segi psikis maupun fisik, oleh sebab itu perlu upaya kesehatan agar para usia lanjut (Usila) ini dapat hidup sehat dan mandiri. Program upaya kesehatan yang dilakukan antara lain penyuluhan secara berkesinambungan, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan melakukan penjaringan usila resiko tinggi.

Usia lanjut adalah orang yang berumur 60 tahun keatas, dan di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 berjumlah 5.119 orang dan yang mendapat pelayanan sebanyak 4.453  atau 86.99% Jika dilihat berdasarkan jender, maka usia yang banyak mendapat pelayanan kesehatan adalah dari kelompok perempuan. Kelompok lansia ini bisa memanfaatkan Posyandu Lansia untuk pemeriksaan kesehatan dan mendapat penyuluhan kesehatan.

4.2    Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan

4.2.1   Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Sejak 1 Januari 2014 pemerintah memberlakukan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). JKN adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran/iuranya dibayar oleh pemerintah.

Jaminan kesehatan merupakan prioritas reformasi pembangunan kesehatan. Adanya regulasi yang mengatur tentang penatalaksanaan JKN seperti UU No 40/2004 tentang SJSN, UU No 36/2009 tentang kesehatan,UU No 24/2011 tentang BPJS, PP No 101/2012 tentang PBI dan Perpres No 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan.

Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi Tahun 2023, jumlah peserta JKN Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebanyak 16.732 jiwa.

4.2.2 Cakupan Kunjungan Rawat Jalan dan Kunjungan Gangguan Jiwa

Kunjungan berarti adanya kepercayaan pasien terhadap organisasi penyelenggara pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhannya. Besarnya tingkat kunjungan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan  dapat dilihat dari dimensi waktu, yaitu harian, mingguan, bulanan dan tahunan.

Kunjungan pasien rawat jalan merupakan salah satu kegiatan yang bisa ditemuin hampir di setiap rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lainnya, baik itu kunjungan baru maupun kunjungan lama. Jumlah kunjungan pasien yang terus meningkat sangat berpengaruh terhadap kelancaran usaha setiap pelayanan kesehatan. Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja puskesmas pada kurun waktu tertentu.

Pelayanan gangguan jiwa adalah pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, yang meliputi gangguan pada perasaan, proses pikir, dan perilaku, yang menimbulkan penderitaan pada individu/dan/atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya.

Kunjungan rawat jalan puskesmas pada tahun 2023 adalah sebanyak 21.938 orang, dan yang dirujuk ke Rumah Sakit sebanyak 1.467 orang.

 

 

4.3    Perilaku Hidup Masyarakat

4.3.1 Rumah Tangga Ber-PHBS

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalan komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatanpimpinan (advokasi), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerman) sebagai suatu upaya untuk membantumasyarakat untuk mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatanan masing-masing agar dapat menerapkan  cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memlihara dan meningkatkan kesehatan.

PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikan  perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Jumlah Rumah Tangga pada tahun 2023 adalah 12.60, jumlah yang dipantau 1.500 atau 16.87% dan jumlah Rumah Tangga yang ber-PHBS sebanyak 375 atau 50%.

4.4    Keadaan Lingkungan

4.4.1   Persentase Rumah Sehat

Rumah yang sehat adalah rumah yang memenuhi standar kesehatan, seperti sirkulasi udara yang lancar, kualitas air yang memadai, penerangan yang cukup dan sanitasi yang benar.

Rumah yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 sebanyak 6.764 rumah. Berdasarkan data tahun 2023 rumah yang memenuhi syarat rumah sehat berjumlah 5.299 Rumah (85%) dan yang belum memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 1.465  rumah. Rumah yang belum sehat ditahun 2023 dibina di tahun 2023. Jumlah rumah yang dibina tahun 2023 sejumlah 840 rumah dan yang memenuhi syarat sejumlah 571 rumah (75%). Jumlah    seluruh Rumah Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi tahun 2023 sebanyak 5.299 Rumah atau 85%.

4.4.2    Penduduk yang memiliki Akses Air Minum Berkualitas

(Layak)

Air adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan dapat dipastikan tanpa pengembangan sumber daya air secara konsisten peradaban manusia tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini.

Air bersih dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia untuk melakukan segala kegiatan mereka. Sehingga perlu diketahui bagai mana air dikatakan bersih dari segi kualitas bisa digunakan dalam jumlah yang memadai dalam kegiatan sehari-hari manusia. Air merupakan faktor penting dalam pemenuhan kebutuhan vital manusia salah satunya sebagai air minum. Air yang digunakan harus bebas dari kuman penyakit dan tidak mengandung bahan beracun. Sumber air minum yang memenuhi syarat sebagai baku air minum jumlahnya semakin lama semakin berkurang.

Pada tahun 2023, jumlah sumur gali yang memenuhi syarat sebanyak 774 dari 782 sarana, jumlah sumur gali dengan pompa yang memenuhi syarat sebanyak 333 dari 345 sarana, jumlah bor yang memenuhi syarat 352 dari 778 sarana, jumlah terminal air yang memenuhi syarat 37 dari 37 sarana, jumlah penampungan air hujan yang memenuhi syarat 138 dari 181 sarana, jumlah perpipaan yang memenuhi syarat sebesar 2.769 dari 2.769 sarana. Dan jumlah penduduk yang memiliki akses air minum layak sejumlah 23.550 jiwa atau sekitar 82%.

4.4.3 Persentase Penyelenggara Air Minum Memenuhi syarat Kesehatan

Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Penyelenggara air minum adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah,koperasi, badan usaha swasta, usaha prorangan kelompok masyarakat dan/individual yang melakukan penyelenggara penyediaan air minum.

Data tahun 2023 jumlah penyelenggara air minum di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi sejumlah 840, dengan jumlah sampel diperiksa 840 dan yang memenuhi sayarat baik fisik, bakteriologik dan kimia sejumlah 840 (100%).

4.4.4 Persentase Penduduk yang Memiliki Akses Sanitasi yang Layak

Sanitasi dasar adalah syarat kesehatan lingkungan minimal yang harus dipunyai oleh setiap keluarga untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Ruang lingkup sanitasi dasar yakni sarana penyediaan air bersih, sarana jamban keluarga, sarana pembuangan sampah dan sarana pembuangan air limbah.

Tahun 2023, jenis sarana jamban di wilayah kerja puskesmas cantigi yang menggunakan beberapa leher angsa dengan jumlah sarana 8.757 yang memenuhi syarat sejumlah 8.757, dengan jumlah penduduk pengguna yang memenuhi syarat 29.169 (100%) dari 8.757 jumlah kk penduduk pengguna. Jumlah seluruh penduduk dengan akses sanitasi layak sebesar 8.757 kk atau sekitar 100%.

4.4.5   Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Desa melaksanakan STBM adalah desa yang sudah melakukan pemicuan minimal 1 dusun, mempunyai tim kerja masyarakat/ natural leader dan telah mempunyai rencana tidak lanjut untuk menuju sanitasi total, sedangkan desa STBM adalah desa yang telah mencapai 100% penduduk melaksanakan 5 pilar STBM (Stop buang air besar sembarangan, Cuci tangan pakai sabun, Pengelola air minum/makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga). Desa Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) adalah desa yang penduduknya 100% mengakses jamban sehat.

Pada tahun 2023, desa yang sudah melakukan STBM sebanyak 7 desa (100%) .

4.4.6 Persentase Tempat-tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Sehat

Tempat – tempat umum (TTU) adalah tempat atau sarana yang diselenggarakan pemerintah/swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakatyang meliputi sarana kesehatan, sarana pendidikan dan hotel. TTU sehat adalah TTU yang memenuhi standar bedasarkan peraturan perundangan yang berlaku. TTU  di wilayah kerja puskesmas Cantigi tahun 2022 berjumlah 60 sarana yang memenuhi syarat kesehatan 46 Sarana atau 75.7%.

Tempat Pengolahan Makanan (TPM) adalah usaha pengolahan makanan yang meliputi jasa boga atau katering, rumah makan dan restoran , depot air minum, kantin dan makanan jajanan. TPM memenuhi syarat higiene sanitasi adalah TPM yang memenuhi persyaratan higiene sanitasi dengan bukti dikeluarkannya laik higiene sanitasi. Dari 77 Jumlah TPM, terdapat 72 sarana TPM yang memenuhi syarat atau sebesar 95.6 % dan TPM yang tidak memenuhi syarat hygiene sanitasi sejumlah 5 (4.4%).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

 

Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebutkan bahwa Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan tekhnologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.                   

            Dalam pembangunan pelayanan kesehatan , sumber daya kesehatan perlu ditingkatkan  dan didayagunakan, sehingga dapat mendukung   peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Sumber daya kesehatan meliputi pula penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kesehatan/kedokteran, serta data dan informasi yang makin penting perannya. Untuk mendukung keberhasilan pencapaian cakupan program kesehatan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya kesehatan yang mencukupi sesuai kebutuhan.

5.1 Sarana Kesehatan

5.1.1   Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan, Puskesmas diharapkan dapat bertindak sebagai motivator, fasilitator dan turut serta memantau terselenggaranya proses pembangunan di Wilayah kerjanya.

Wilayah kerja Puskesmas Cantigi meliputi 7 Desa, untuk melayani persalinan 24 jam Puskesmas Cantigi mempunyai Poned. Untuk lebih meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di wilayah kerjanya. Puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 2 unit, Pos kesehatan desa (Poskesdes) sebanyak 2 unit, Pos Bersalin Desa (Polindes) sebanyak 2 unit dan Puskesmas Keliling (Pusling) sebanyak 1 unit.

 

 

 

 

5.1.2 Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan

Selain Puskesmas, yang termasuk sarana pelayanan kesehatan adalah Bidan Praktek Swasta (BPS) dan balai pengobatan/klinik. Semua sarana selain Puskesmas dikelola oleh swasta.

5.1.3 Posyandu

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakat dapat sekaligus pelayanan profesional oleh petugas sektor, serta non-profesional (oleh kader) dan diselenggarakan atas usaha masyarakat sendiri. Pelayanan yang diberikan posyandu meliputi : KB, KIA, gizi, imunisasi dan penanggulangan diare serta kegiatan sektor lain. Posyandu ini terbagi menjadi 4 strata, yaitu Pratama, Madya, Purnama dan Mandiri.

Pada tahun 2023 di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi mempunyai posyandu sebanyak 56 dengan posyandu aktif sejumlah 56 atau 100%. berdasarkan stratanya semua posyandu adalah strata Madya.

5.1.4 Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)

UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdya Masyarakat) adalah salah satu wujudnyata peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Bentuk UKBM selain posyandu terdapat juga Polindes (Pos Bersalin Desa), Poskesdes (Pos Kesehatan Desa), Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu).

Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat tersebar di 7 desa di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi. UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di masyarakat adalah posyandu. Posyandu terbukti mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi. Sebagai salah satu tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang langsung bersentuhan dengan masyarakat level bawah, sebaiknya posyandu digiatkan kembalikarena terbukti ampuh mendeteksi permasalahan gizi seperti permasalahan gizi buruk anak balita, kekurangan gizi dan masalah kesehatan lainnya menyangkut kesehatan ibu dan anak.

Selain posyandu, UKBM lainnya yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cantigi pada Tahun 2017 adalah Polindes (Pos Bersalin Desa). Polindes merupakan wujud peran serta masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Jumlah polindes yang ada yaitu 2 buah.

Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan keehatan dasar bagi masyarakat pedesaan, dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Pada tahun 2020 poskesdes yang ada berjumlah 2 buah.

Posbindu merupaka salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan masyarakat itu sendiri, khususnya penduduk usia lanjut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dn masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Jumlah posbindu di wilayah kerja Puskesmas Cantigi sebanyak 14 buah.

5.1.5 Desa Siaga

Desa Siaga merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan semberdaya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri. Desa Siaga adalah suatu konsep peran serta dan pemberdayaan masyarakat di tngkat desa, disertai dengan pembangunan kesiagaan dan kesiapan masyarakat untuk memelihara kesehatannya secara mandiri. Di wilayah kerja Puskesmas Cantigi sebanyak 7 desa seluruhnya sudah menjadi Desa Siaga (100%).

5.2 Tenaga Kesehatan

Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi dan non profesi serta tenaga pendukung atau penunjang kesehatan, yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya dalam upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan profesi adalah tenaga kesehatan yang telah melalui pendidikan formal atau pendidikan akademis dan profesi di bidang kesehatan. Sedangkan tenaga kesehatan non profesi adalah tenaga kesehatan yang telah melalui pendidikan formal, pendidikan akademis tanpa melalui pendidikan profesi dalam bidang kesehatan. Tenaga pendukung atau penunjang kesehatan adalah setiap tenaga yang telah memiliki ijazah pendidikan formal atau pendidikan dirinya dibidang kesehatan sesuai keahliannya serta tenaga lainnya yang telah mengikuti pelatihan dibidang kesehatan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Adapun jumlah tenaga kesehatan di puskesmas Cantigi adalah 52 orang yang terdiri dari :

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 5.2

Sumber Daya Manusia Kesehatan

Puskesmas Cantigi Tahun 2023

No

Jenis Tenaga

Status Tenaga

Jumlah

1

Dokter Umum

ASN

1

 

 

BLUD

1

2

Perawat

ASN

5

 

 

BLUD

1

 

 

THL

6

3

Bidan

ASN

6

 

 

PTT

1

 

 

BLUD

1

 

 

THL

11

4

Epidemiolog

ASN

1

5

Kesehatan Masyarakat

ASN

2

 

 

BLUD

2

6

ATLM

ASN

1

7

Pengelola Keuangan

BLUD

1

8

Administrasi Umum

ASN

2

 

 

THL

3

9

Pranata Komputer

BLUD

1

10

Penjaga Kantor

APDB

1

11

Sopir Ambulance

THL

1

12

Pramu

BLUD

1

13

Petugas Kebersihan

APBD

2

 

 

THL

1

 

Total

52

 

5.3    Pembiayaan

Anggaran kesehatan di Puskesmas Cantigi tahun 2023 bersumber dari APBD Kabupaten Indramayu, Kapitasi JKN dan APBN. APBD Kabupaten indramayu Sebesar Rp. 72.845.304,- Kapitasi JKN sebesar Rp. 1.482.246.265,- dan APBN sebesar Rp. 369.585.000,-. Total anggaran kesehatan Puskesmas Cantigi tahun 2023  sebesar  Rp. 2.163.925.569,

 

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN

            Untuk memberikan informasi yang menyeluruh dan ringkas mengenai indikator derajat kesehatan dan hasil pencapaian program keasehatan di Wilayah kerja        Puskesmas Cantigi pada Tahun 2023, maka dapat disimpulkan, sebagai berikut :

6.1    Situasi Derajat Kesehatan

Indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan adalah angka kematian dan angka kesakitan. Banyak upaya yang telah dilakukan agar kasus kematian ibu, bayi dan balita bisa ditentukan. Kasus kematian pada tahun 2023 adalah 6 bayi lahir mati dan 1 Kasus kematian ibu akibat kehamilan, melahirkan dan masa nifas.

Angka kesakitan juga digunakan sebagai indikator derajat kesehatan.     Tahun 2023 pada kasus TB ditemukan kasus baru BTA + 77 kasus, TB pada anak 0-14 tahun berjumlah 30 kasus, BTA + yang diobati sebanyak 35 kasus, jumlah kematian selama pengobatan TB 2 orang. Kasus pneumonia pada balita sebanyak 101 Kasus. Kasus HIV + sebanyak 3 kasus. Jumlah kasus diare sebanyak 744 kasus. Pada kasus kusta ditemukan penderita baru PB+MB         berjumlah 13 kasus. Kasus campak tidak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Cantigi. Dan untuk kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Cantigi .

6.2    Situasi Upaya Kesehatan

PWS KIA bertujuan untuk memantau secara berkesinambungan pelayanan kesehatan ibu hamil, dari ANC sampai persalinan serta kesehatan anaknya. Pemantauan yang dilakukan adalah pemantauan K1, K4, deteksi resti oleh tenaga kesehatan/masyarakat, persalinan oleh tenaga kesehatan, kunjungan neonatus dan pelayanan kesehatan bayi dan balita.

Pencapaian K1 tahun 2023 sudah melebihi target, yaitu 122.17 % dari     target 100 %. Pencapaian K4 104.43 %, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan sebanyak 503 orang, pencapaian kunjungan neonatal (KN)1 melebihi target sebanyak 122.6 % dan KN Lengkap juga sudah melebihi target sebanyak 122.4 %.

Pasangan Usia Subur (PUS) tahun 2023 berjumlah 4.589 PUS. PUS yang merupakan peserta KB Aktif sebanyak 3.271 orang dan PUS peserta KB baru sebanyak 1.318 orang.

Jumlah bayi lahir hidup di wilayah kerja Puskesmas Cantigi pada tahun 2023 berjumlah 459 Bayi. Bayi dengan BBLR sebanyak 4 bayi dari 459 bayi baru lahir yang ditimbang. Bayi yang diberi ASI Ekslusif sejumlah 190 Bayi (71,69%) dan yang mendapatkan pelayanan kesehatan bayi sebanyak 459 bayi dari jumlah bayi 502 . Untuk bayi yang diimunisasi BCG 455 bayi, DPT+HB+Hib 3 = 458 bayi, campak 405 bayi atau 88,8 % yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap        berjumlah 2.198 bayi atau 439 %. Jumlah bayi yang dilaporkan (S) adalah 1.973 , jumlah yang ditimbang (D) 1.901, persentase D/S nya adalah 96%, jumlah BGM sebanyak 17 ditemukan kasus gizi buruk pada balita sebanyak 2 Anak.

Untuk cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat tahun 2023 ini pelaksanaan penjaringan kesehatan siswa sd dilaksanakan di 19 sekolah.

6.3    Situasi Sumberdaya Kesehatan

Mencakup sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan. Di Wilayah kerja Puskesmas Cantigi sampai tahun 2023 mempunyai 1 gedung puskesmas dan 1 gedung Poned. Untuk lebih mendekatkan lagi puskesmas dengan masyarakat  terdapat 2 pustu, 2 poskesdes, 2 polindes, 1 pusling dan 56 posyandu.

Tenaga Kesehatan yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Cantigi terdapat 52 orang, terdiri dari: Dokter Umum 2 orang, perawat 12 orang, Bidan 19 orang, Epidemiolog 1 orang, Kesehatan Masyarakat 4 orang, Pengelola Keuangan 1 orang, Administrasi Umum 5 orang, Pranata Komputer 1 orang, Pramu 1 orang, Petugas Kebersihan 2 orang, Penjaga Kantor 1 orang, Analis Laboratium 1 orang dan Sopir Ambulance 1 orang.

Pembiayaan kesehatan di Puskesmas Cantigi tahun 2023 bersumber dari APBD Kabupaten Indramayu, Kapitasi JKN dan APBN. APBD Kabupaten indramayu Sebesar Rp. 72,845,304.- Kapitasi JKN sebesar                                  Rp. 1,482,145246,265.- dan APBN sebesar Rp. 369,582,000.- Total anggaran kesehatan Puskesmas Cantigi tahun 2023 sebesar  Rp. 2,163,925,569.-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar